Powered By Blogger

Senin, 05 September 2011

SETANGKAI MAWAR MERAH

Diantara semak-semak ditepi jalan disebuah pedesaan yang damai tumbuh serumpun bunga mawar merah, walaupun dia tumbuh diantara semak-semak namun sangat jelas terilhat perbedaan antara tumbuhan bunga mawar dengan tumbuhan yang ada disekitarnya, kalau diamati lebih dekat lagi tumbuhan itu ternyata ada sebuah tangkai yang menopang bunga yang sedang merekah dengan indahnya, dan bunga itu berwarna merah, itulah setangkai bunga mawar merah. Dari jarak beberapa meter bunga itu terlihat sangat menonjol diantara tumbuhan lain, yang juga mengeluarkan bunga, namun tidak seindah bunga mawar merah itu, apa lagi di pagi hari diantara kelopak bunganya itu terdapat butiran embun yang putih bersih bagaikan kristal, menambah pesona bunga tersebut, terlebih lagi dengan aromanya yang wangi semerbak mengundang orang untuk memilikinya.

          Keindahan bunga mawar yang masih segar dan mekar sangat mempesona, bagaikan permata merah penuh daya pikat setiap orang yang melihatnya, dan tidak sedikit diantara mereka itu ingin berusaha memilikinya, suatu ketika sesorang datang mendekati bunga mawar itu, oh....rupanya ia terpesona dan ingin memeliki bunga mawar itu, krn ia takut jika didahului oleh orang lain maka dengan segera dan tergesa-gesa ia memetik bunga itu......lalu tangannyapun ia julurkan untk mendekatkan tangan berusaha menjangkau kearah tangkai bunga itu dengan harapan agar dapat memetik bunga itu dengan mudah...namun apa yang terjadi tiba-tiba....aduuuuhh !.....orang itu menjerit dan tangannya seketika mengeluarkan darah, rupanya ketikaia mencoba untuk mematahkan tangkai bunga mawar tersebut tangannya tertusuk duri dari tangkai yang diciptalkan Allah untuk melindungi dari tangan-tangan jahil...lalu orang tersebut sambil menahan perih karena luka akibat tertusuk duri tersebut, iapun segera menjauh dari bunga itu sambil menahan perih untuksegera diobati....dan perih itu bertambah-tambah karena bunga yang ia inginkan gagal untuk dimilikinya.....ia bergumam dalam hati ..."nanti klu sdh sembuh luka ini dan hilang sudah perihnya akan ku coba untuk memetiknya kembali...." 

         Namun...sebelum luka itu sembuh, tiba-tiba ada orang kedua yang datang untuk memetik bunga mawar merah yang indah itu, rupanya orang kedua ini sudah memiliki pengalaman bagaimana caranya memetik bunga mawar dengan tangkainya,...dengan perlahan-lahan tidak tergesa-gesa ia dengan sabar menjulurkan tangan untuk menjangkau bunga mawar itu,setelahdekat dan tangkai itu dalam jangkauannya lalu ia amati celah mana untuk memegang tangkai itu agar tidak tertusuk duri, setelah ia menemukan celah itu lalu dengan perlahan ia pegang tangkai itu, hanya dengan hitungan detik terdengar bunyi ...krak..!! dan tangkai bunga mawar itupun patah lalu setangkai bunga mawar itu sudah berpindah tempat...dari rumpun yang ada di semak-semak telah berpindah ketangan orang tersebut, dengan perasaan puas dan bahagia ia bawa setangkai bunga itu kerumahnya...lalu ia masukan kedalam vas bunga yang telah berisi air agar kesegaran bunganya terjaga dalam waktu yang cukup lama. 

           Kehadiran setangkai mawar yang masih segar itu benar-benar mampu mewarnai suasana di rumah itu, keindahan bunganya serasi dengan vas yang cantik dan diletakan di disalah satu sudut ruangan keluarga itu, kesegaran dan aroma yang wangi menebar disekitar ruangan itu membuat orang yang didekatnya merasa bahagia karenanya. Namun sayang dan tentu sudah menjadi hukum alam bahwa di alam jagat raya ini tidak ada yang kekal, kesegaran, keindahan dan kewangian bunga mawar merah itu ada batasnya, seiring dengan perjalanan waktu ketika tiba masanya maka bunga itupun mulai layu, kesegaran dengan perlahan mulai hilang, aroma yang wangi semerbak sudah memudar, lalu bunga itupun dicabut dari vasnya yang cantik untuk diganti dengan bunga yang lain. 

      Kalau kita mengamati dan mempelajari filosufis dari setangkai bunga mawar tadi maka akan banyak pelajaran yang berharga yang dapat diambil, ketika belum berupa bunga yang mekar, ia masih berupa bunga yang kuncup itu ibarat orang yang berusaha untuk belajar, menimba ilmu, apa yang akan diperbuatnya kelak ketika ia menjadi dewasa, setelah bunga itu mekar dengan segala keindahan dan kewangiannya, disini ia bagaikan insan yang menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat yang membuat orang menjadi bahagia ketika berada didekatnya, namanya harum karena keindahan budi pekertinya, ia tunaikan tugasnya sebagai makhluk ciptan Allah, ia keluarkan seluruh potensi yang ada padanya untuk kemaslahatan umat sebagai bentuk pengabdian kepada sang Khalik yang telah menganugerahkan kelebihan yang ada padanya. 

         Kesempatan yang singkat itu benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kepada hal-hal yang berguna. Vas bunga cantik yang ditempat setangkai bunga mawar merah itu sebelumnya sudah pernah ditempati oleh bungan lainnya, kelak ketika bunga itu layu dan dicabut dari tempatnya, maka vas itupun akan diganti dan ditempati oleh setangkai bunga lainnya, dan rotasi itu terus berlangsung sepanjang waktu sampai tiba saatnya vas itu pecah dan tidak dapat dipergunakan lagi, Nah vas bunga yang cantik itu ibarat suatu kedudukan atau jabatan, dan kitapun menyadari bahwa kedudukan atau jabatan yang kita duduki saat ini dahulu sudah pernah diduduki orang lain, suatu saat kedudukan itupun akan diduduki oleh orang lain, oleh karena itu ketika kita masih mampu untuk berbuat sesuatu, maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya kepada hal-hal yang baik sesuai dengan norma-norma yang telah digariskan., karena sebagai mahluk tentu memiliki keterbatasan waktu dalam menjalani tugas sebagi hamba di alam yang fana ini.
             
             Bunga mawar ini hanyalah salah satu dari milyaran ciptaan Allah Swt, sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi insan yang ingin belajar dari alam disekitarnya, yang tersebar baik didaratan maupun dilautan, dan semua itu mustahil ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dan mengatur keseimbangannya, sebagai insan yang beriman dan bertaqwa dengan tidak ragu sedikitpun bahwa ALLAH SWT yang menciptakan semua itu, Ia ciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi untuk belajar dari tumbuhan dan makhluk hidup lainnya yang tersebar di muka bumi ini untuk menambah pengetahuan dan mempertebal keimanannya.

Selasa, 05 April 2011

NAPAK TILAS PERJALANAN SANG WAKTU


Beberapa hari yang lalu kami pulang kekampung halaman untuk menghadiri acara keluarga, kesempatan itu kumanfaatkan untuk jalan-jalan melihat suasana kampung tempat kami bermain ketika kami masih anak-anak, salah satu tempat yang penuh kenangan dimasa itu adalah di daerah berbukit oleh penduduk dinamakan daerah Kapao, disana tempatnya masih alami bukitnya yang sebagian besar pasir di dominasi tumbuhan karamunting.
Bukit berpasir putih bersih sangat disukai oleh anak2 untuk bermain petak umpet dan perang-perangan, karena banyak ditumbuhi pohon karamunting yang tingginya rata-rata sepinggang orang dewasa, kalau musim berbuah, kami sering memetik buah yang matang yang berwarna ungu agak kehitam-hitaman, rasanyapun manis sehingga sangat disukai oleh anak2 maupun orang dewasa yang kehausan ketika baru pulang dari kebun.

Sore itu aku sengaja mendatangi tempat itu untuk melihat susana alam sekitarnya, setibanya disana melihat panorama alam yang masih alami benar-benar membuat takjub mata memandangnya, pasir putih berkilau diatas perbukitan, terinjak kaki ketika melangkah terasa lembut dan hangat, disekitar pasir putih seluas mata memandang tidak segersang sebagaimana gurun sahara, tetapi diatas pasir itu tumbuh banyak pepohonan yang rindang, namun didomiasi hampir 90 persen tumbuhan karumting, selebihnya tanaman jambu mente serta buah-buahan hutan lainnya yang tingginya dapat dijangkau oleh tangan orang dewasa, lalu disebelah barat dan selatan dari kejauhan nampak hutan belantara kalimantan, terlihat menghijau semakin jauh berubah menjadi biru.   Sambil berdiri diatas sebuah gundukan tanah yang agak tinggi dari perbukitan itu,  dengan terus memperhatikan alam sekitarnya, membuat susana hati menjadi nyaman, sejuk, damai dan menyenangkan sekali, apalagi angin berhembus membuat tubuh terasa nyaman, bagaikan seorang anak yang mendapat belaian lembut penuh kasih sayang dari seorang ibu. Ini semua sebuah pemberian dari Yang Maha Kuasa kepada mahluk-Nya yang tidak ternilai harganya, rasa syukur selalu terucap atas semua itu.

Dalam suasana seperti itu teringat kemasa anak-anak, jalan itu yag sering kulai ketika pergi dan pulang mencari kayu yang kering sebagai bahan bakar untuk memasak di rumah, biasanya bagi anak-anak di perkotaan hari minggu dimanfaatkan untuk bermain dan rekreasi bersama keluarga, tetepi bagi kami saat itu setiap hari libur sudah menunggu tugas untuk mencari kayu bakar ditepi hutan, karena hal seperti ini sudah menjadi suatu kebiasaan maka tugas itu tidak menjadi beban, bahkan menjadi suatu kegiatan rutin dan sangat menyenangkan karena dapat membantu meringankan beban orang tua, lebih dari pada itu disela-sela waktu sambil mencari kayu bakar tersebut sering pula kami manfaatkan untuk bermain, seperti bergantung ditali ala tarsan, karena banyak tanaman merambat yang bergantungan dipohon-pohon besar sehingga sering kami gunakan untuk bermain. Setelah mendapatkan kayu bakar sesuai dgn kemampuan kami untuk memikulnya menuju kampung rumah tempat kami tinggal, biasanya kami beristirahat di bukit berpasir yang banyak ditumbuhi pohon karamunting itu, selain mencari buahnya untuk dimakan sebagai pelepas lapar dan dahaga karena kelelahan sehabis mencari kayu bakar juga kami manfaatkan untuk bermain petak umpet, atau kadang-kadang main perang-perangan dengan bersembunyi dirimbunan pohon karamunting, kalau sudah seperti itu rasa letih hilang semua, karena hati sangat gembira, bercanda dan tertawa kadang saling ledek sesama teman, hingga sore hari menjelang magrib baru kami pulang dengan memikul kayu bakar.  

Setelah sekian lama duduksambil mengenang di masa silam, aku berjalan kearah selatan, tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada sesuatu yang kosong tidak terlihat sesuatu yang tumbuh disana, lalu ku coba untuk mendekatinya, masya Allah....aku terkejut, ternyata ada lobang besar yang menganga disana kurang lebih hampir setengah lapangan bola dengan kedalaman sampai tiga meter kebawah, oh...ternyata tempat itu dimanfaatkan orang untuk mengambil pasir lalu di jual guna bahan campuran semen keperluan pembangunan rumah, pertokoan, perkantoran, dll.  Setelah terus berjalan ternyata disekitar itu masih terdapat beberapa lobang galian lagi yang luasnya bervariasi, lubang-lubang itu ditinggal begitu saja setelah pasirnya diambil, lalu ketika hujan airpun tergenang disana.

Melihat kenyataan itu di dalam hati ada rasa kecewa, karena alam yg dulu sangat indahnya, dengan variasi tanaman yang rindang dan subur diatasnya, sekarang justru menjadi rusak, gersang dan terasa panas sekali, namun apa daya karena wilayah itu ada pemiliknya dan dia berhak untuk memanfaatkan tanahnya guna keperluan hidupnya sehari-hari, namun yang sangat disayangkan kenapa lubang itu tdk ditimbun kembali, lalu ditanami lagi dengan tumbuhan yang bermanfaat lainnya.

Dalam kurun waktu sekian tahun ternyata banyak perubahan yang terjadi sangat cepat di lingkungan kita, dulu hutan kalimantan terkenal dengan kelebatan dan kengkerannya, tetapi kini banyak yang sudah ditebang guna diambil kayunya, lalu ada pula yang menafaatkan tanahnya karena di dalamnya terdapat batu bara, seperti saat ini jika kita naik pesawat lalu melihat kebawah, ternyata dimana-mana terlihat lubang-lubang raksasa ditengah-tengah hutan belantara Kalimantan, kalau hal ini dibiarkan terus, tidak menutup kemungkinan beberapa puluh tahun kemudian hutan rimba kalimantan hanya tinggal kenangan dan sejarah yang hanya dapat dilihat dari foto-foto usang di dalam museum.

Allahpun telah mengingatkan kepada kita bahwa kerusakan didaratan dan di lautan disebabkan oleh tangan manusia, tentu manusia yang hanya mencari kenikmatan sesaat bagi dirinya, tanpa memikirkan bagaimana nanti apa yang diwariskan kepada anak cucunya beberapa generasi yang akan datang.
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki saat ini, dan apa yang sudah di canangkan oleh Gubernur Kalimantan Timur dengan selogan KALTIM GREEN ONE MAN FIVE TREE patut mendapat dukungan secara nyata oleh setiap orang, agar hutan kita kembali kepada fungsinya sebagai paru-paru dunia.


Inilah hasil dari perjalan kekampung halaman yang dapat ditulis diposting ini dalam mengingat kemasa silam menembus waktu, kiranya kebahagian bersama bermain dialam yang asri dan alami hasil bentukan alam itu sendiri tanpa sentuhan tangan manusia ketika masa kanak-kanak kembali dapat dirasakan pada saat sekarang dan beberapa generasi yang akan datang, sehingga tidak ada yang hilang dan selalu terjaga apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai khalifah di muka bumi, lalu....semua mahluk akan tersenyum melihat NAPAK TILAS PERJALAN SANG WAKTU........

Minggu, 27 Maret 2011

DAUN KERING ITU AKHIRNYA GUGUR

pohon nangka yang rindang
Dihalaman rumah berdiri dengan  kokohnya sebatang pohon nangka, daunnya yang rimbun berwarna hijau mengkilap manandakan kesuburuan tanaman itu, diantara batang dan dahan berjuntai dan tersusun dgn indahnya benda bulat dari yang paling kecil sampai yang besar, semakin kebawah semakin besar yang membedakan usia benda itu, yah itulah buah nangka yang sangat digemari banyak masyarakat kita, mulai dari buah yang muda digunakan para ibu2 untuk membuat sayuran yang lezat sampai buahnya yang telah matang sangat enak sekali dikonsumsi baik langsung maupun diolah berbagai macam makanan atau minuman seperti jus nangka, atau bahan campuran untuk membuat kue agar rasa dan aromanya menambah selera orang yang ingin menikmatinya.

Pada tulisan di posting ini saya tidak terlalu fokus untuk membahas buah nangka tersebut ataupun mahluk lain yang memanfaatkan keberadaan tumbuhan itu, tetapi yang menjadi perhatian adalah daunnya yang rimbun itu menaungi halaman dan teras rumah dari sengatan sinar matahari di siang hari, sehingga ketika berada di teras rumah terasa sejuk dan menyegarkan. Mengamati dedaunan benar-benar sangat mengasyikan, ada daun yang berwarna hijau muda berukuran kecil menandakan daun yang masih muda, lalu ada daun yang berwarna hijau tua dan berukuran lebih besar, serta ada yang berwarna kuning sebagian dan  ada pula yang berwarna  kuning keseluruhannya sebagai tanda bahwa daun itu sudah sangat tua.  

Suatu ketika ketika sedang duduk diatas bangku yang terbuat dari kayu di bawah pohon itu sambil membaca buku terdengar suara dari atas lalau  menengadahkan kepala ketas terlihat diatas ranting pohon terlihat dua pasang burung kutilang sedang berlompat-lompatan dari satu ranting keranting lain sambil memakan serangga yang ada dibatang pohon nangka tersebut dengan paruhnya yang mungil, kadang-kadang ia mengelurkan suara yang seakan-akan bernyanyi dengan riangnya. Kehadirannya benar-benar menambah sejuk dan damainya suasana disekitar tumbuhan itu. 
Tidak lama kemudian datang angin berhembus walaupun tidak terlalu kencang tetapi cukup untuk membuat dahan itu bergoyang, lalu terlihat beberapa daun yang berwarna kuning  dan kering berterbangan, berguguran diterpa angin itu, sementara daun yang berwarna hijau tetap melekat dengan kokohnya diranting-ranting pohon.  Lalu sehelai daun yang berguguran itu kuambil, diamati  dengan seksama ternyata tangkainya telah layu sehingga tidak mampu lagi melekat dengan ranting pohon, daunnyapun sudah tidak lagi berfungsi sebagai pemasak makanan bagi tumbuhan itu, sementara daun muda yang mulai muncul sebagai penggantinya terlihat sangat banyak, lebih banyak dari daun yang telah gugur tadi. 
Siklus proses perjalanan daun dari mualai tumbuh kemudian menjadi daun dewasa lalu menjadi daun tua dan kering, akhirnya gugur....lalu muncul lagi daun muda dan begitu seterusnya sampai tanaman itu mati.

Daun tadi adalah salah satu contoh bagaimana sifat fananya mahluk yang ada di alam ini, mulai terbentuk sampai akhirnya tua dan mati, siklus itu terus berjalan tiada hentinya sepanjang alam dunia ini masih ada.
Nah ternyata cukup menarik dari pelajaran daun tadi, ada kurun waktu sebelum daun itu kering dan mati memiliki masa produktivitas yang mampu menopang keberadaan pohon nangka itu secara keseluruhan sebagai bagian dari sistem yang memiliki peran yang sangat vital bagi kelangsungan kehidupan pohon itu.

Demikian pula pada diri manusia, ketika masih ada kesempatan untuk memberikan yang terbaik kepada sesama sebagai bentuk pengabdian kepada sang Khaliq, maka kesempatan itu agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena ada masa ketika kita tidak mampu lagi berbuat, walaupun keinginan itu ada. Karena salah satu kunci kebahagiaan adalah ketika kita mampu membahagiakan orang lain, tidak ada yang namanya kebahagiaan kalau kita berada ditengah orang-orang yang menderita.
Tidak terbantahkan bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup setiap makhluk sepanjang zaman dan dimanapun ia berada serta siapapun orangnya, semua mendambakan kebahagiaan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan sebagai tujuan dari segala usaha yang dilakukan. 
Ketika ingin mencapai kebahagiaan itu maka diperlukan peran orang lain, karena tidak mungkin kita akan bahagia dengan sendirinya, oleh karena itu dalam diri kita ada pula hak-hak orang lain yang juga ingin bahagia karena keberadaan kita. Sebagai makhluk sosial dari bagian sistem dan siklus roda kehidupan tidak dapat dipungkiri saling memberi, saling berbagi, saling memabantu, saling menyayangi dalam berbagai hal tentunya sesuai dengan norma-norma akan mampu membawa kesalah satu kunci  hidup menjadi bahagia.

Namun pada hakekatnya kebahagiaan itu akan didapat jika usaha yang dilakukan mendapat Ridha dari Allah Swt.


Hari kita adalah hari ini lakukanlah yang terbaik untuk mencapai kebahagiaan, jangan tunggu hari esok, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti...........karena jika kita tidak memanfaatkan kesempatan dengan melakukan hal-hal yang terbaik, kelak kita akan menyesal, karena bagaimanapun kuatnya kita nanti ada masanya kita tak mampu lagi berbuat dan kemudian DAUN KERING ITU AKHIRNYA GUGUR.

 

Jumat, 17 Desember 2010

Indahnya sebuah pengharapan ( Rumahku Sorgaku )

lingkungan yg asri dan sejuk

Di suatu sore disebuah pedesaan yang damai......suara gemiricik air yang jatuh dari bukit disamping rumah terdengar indah, dan air itu terkumpul di sebuah kolam yang tercipta melalui proses alam, dan disekelilingnya berdiri beberapa batang pohon meranti serta tanaman anggrek dan bunga yang tumbuh indah disekeliling kolam, ikan-ikan terlihat berenang kesana kemari dengan bebasnya, seakan ia bermain dengan riangnya didalam  kolam yang airnya sangat dingin dan bening sambil menikmati makanan berupa lumut berwarna hijau yang tumbuh di  kolam itu, kemudian terlihat serangga kecil serta kupu-kupu yang berterbangan kemudian hinggap dikelopak bunga untuk menghisap madu, kemudian tidak jauh dari kupu-kupu yang sedang asyik menghisap madu tersebut terlihat sepasang burung kecil yang sedang berkicau bersuara seakan ia sedang mendendangkan lagu dengan merdunya  sedang bertengger diranting pohon, sejenak kemudian ia terbang saling susul menyusul....oh rasa iri melihatnya, ia begitu gembira dan begitu serasinya saling memadu kasih sambil berdendang riang dari ranting satu keranting lainnya. Angin berhembus dengan lembut menambah sejuknya suasana alam disekitarnya.


Tidak jauh dari kolam itu berdiri kokoh sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu, tiangnya terbuat dari kayu ulin ( sering disebut pula kayu besi ), kayu ulin itu hanya dapat tumbuh di bumi Kalimantan yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, umurnya mencapai sampai ratusan tahun. Kayu itulah yang dijadikan tiang untuk bangunan rumah kayu tersebut, rumah itu berbentuk panggung namun tidak terlalu tinggi  seperti rumah gadang di Sumatera Barat, rumah dengan ukuran kurang lebih 64 persegi cukuplah bagi keluarga kecil, dirumah itu memiliki dua buah kamar, ruang tamu,  ruang keluarga dan ruang dapur. Walaupun terlihat sederhana namun rumah tersebut sudah ditata dengan nuansa modern sehingga sangat nyaman untuk ditempati. Kehadiran rumah yang berdiri dengan anggunnya dilereng bukit itu benar-benar terlihat indah dan serasi dengan lingkungan alam disekitarnya.

Dipekarangan rumah itu seorang gadis kecil yang cantik dan lucu , rambut ikal sebahu dengan baju berwarna pink sedang berlari  kesana kemari  berusaha menangkap seekor kupu-kupu, namun selalu gagal, tiba-tiba  duh... suatu ketika kakinya tersandung dan iapun terjatuh, melihat gadis kecil itu terjatuh  seorang wanita dewasa berlari untuk menolong gadis itu yang sedang menangis karena kesakitan....oh ternyata wanita itu ibu dari gadis kecil yang sedang menagis tadi...sejenak kemudian setelah ditemui oleh ibu itu entah apa yang dikatakannya, gadis kecil itu kembali tertawa riang dan melanjutkan bermain sambil berlari mengejar kupu-kupu, tidak lama kemudian keluar dari pintu rumah seorang anak laki-laki sekitar 10 tahun, bentuk tubuhnya yang bongsor namun gesit, ia datang membawa alat untuk menangkap kupu-kupu guna menolong adiknya yang sedang berusaha untuk menangkapnya setelah beberapa lama tidak mendapatkan hasil, yah....hanya beberapa saat anak laki-lakiitu berhasil menangkap kupu-kupu yang sangat cantik dan indah, lalu kupu-kupu hasil tangkapannya itu diberikannya kepada adiknya...gadis kecil itu berteriak dan tertawa dengan girangnya setelah mendapat kupu-kupu dari kakaknya lalu mereka berdua bermain bersama dengan akrabnya saling menyayangi.....mereka terlihat sangat gembira.
Tidak jauh dari kedua anak tadi bermain diatas sebuah bangku yang terbuat dari kayu duduklah sepasang suami isteri yang sedang asyik saling ngobrol, entah topik apa yang sedang dibicarakannya, disela-sela diskusinya kadang mereka saling tersenyum dan tertawa dengan mesranya sambil memperhatikan anak mereka yang sedang bermain, sesaat kemudian ia menyantap makanan riangan berupa singkong rebus yang diambil tadi pagi dari kebun kecil dibelakang rumahnya sambil menikmati secangkir kopi.



Ketika hari menjelang senja mereka pulang kerumah untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat mahgrib berjamaah, maka ketika waktu sholat telah tiba anak laki-laki langsung berdiri mengumandangkan adzan dengan suara yang merdu, setelah itu mereka melaksanakan sholat maghrb berjamaah, setelah salam dan wirid serta diakhiri dengan do'a mereka saling bersalam-salaman untuk meminta ampun atas semua kesalahan baik yang sengaja maupun tidak. Beberapa saat setelah itu mereka membaca Al-Qur'an, sang ayah sedang memperhatikan anak laki-lakinya menghafal surah-surah pendek, sementara ibunya membantu anak gadis kecilnya belajar membacadi buku Iqra. Setelah sholat Isya berjamaah dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Setelah makan malam mereka melaksanakan tugas masing-masing, bagi anak-anak mereka belajar untuk persiapan besok masuk sekolah, sementara sang ayah sedang membaca buku, sementara ibunya membersihkan sisa-sisa makan setelah makan malam tadi.

Tulisan diatas adalah gambaran suasana rumah tangga yang harmonis,  keluarga yang Sakinah, mawaddah dan Warrahmah, dambaan setiap insan. Untuk mencapai itu perlu kesabaran dan tekad yang kuat untuk tidak mudah tergeser oleh nilai-nilai yang dapat merusak keharmonisan itu. Dalam membentuk sebuah rumah tangga perlu perencanaan yang matang dan benar-benar dilandasi nilai cinta dan kasih sayang, selanjutnya hanya kepada Allahlah kita berserah diri dan hanya kepada-Nyalah digantungkan semua harapan agar mampu menjalankan bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.
Jika pengharapan itu tercapai semua akan menjadi indah maka inilah yang dikatakan SORGAKU - RUMAHKU.

 

Sabtu, 04 Desember 2010

Teduhnya lautan biru sebening hati yang suci

Panorama pantai

Pagi itu.....setelah sarapan kupergi ketepi pantai untuk melihat suasana di alam terbuka, setelah selama beberapa hari hanya berada di dalam kamar/ruangan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang banyak menyita waktu.

Setibanya di pantai itu....subhanallah...betapa indahnya pemandangan pantai pagi itu, cuaca yang cerah benar-benar terlihat air laut yang berwarna biru seakan menyatu dengan garis langit yang berwarna biru pula, sambil berjalan diatas hamparan pasir itu mata tidak bosan-bosannya memandang lautan yang teduh, ya.....karena pagi itu tidak ada angin yang behembus deras sehingga gelombang lautanpun tidak sebesar ketika angin berhembus kencang, mata hari nampak terlihat di ujung sebelah timur menambah indahnya panorama pantai yang berpasir putih. Dari kejauhan terlihat para nelayan yang mencari ikan untuk mencari nafkah kebutuhan hidup keluarganya.


Kalau memperhatikan teduhnya lautan itu rasanya tidak mungkin ia mampu mendatangkan bencana, namun kenyataannya dinegeri ini tidak sedikit korban akibat kegananasan lautan, tidak hilang dalam ingatan bagaimana air laut yang telah memporak porandakan Aceh dan sekitarnya, bahkan yang terbaru pulau Mentawai, yah...ternyata dibalik ketenangannya itu tersimpan mesteri yang sukar untuk ditebak apa yang akan terjadi kemudian. Namun dalam posting ini saya tidak mengulas tentang bencana yang disebabkan air laut lebih jauh, namun yang menarik perhatian saya saat ini adalah kehadiran pantai yang teduh dan damai ini benar-benar membuat hati jadi sejuk, Alhamdulillah...Allah telah menciptakan alam ini begitu indahnya, keindahan yang kurasakan pada saat ini semata-mata anugerah nikmat yang diberikannya, udara yang sejuk walau tidak dapat dilihat dan pegang namun dapat dirasakan dan dinikmati, hirupan nafas yang dalam membuat dada terasa longgar, itulah nikmat yang terkadang manusia lupa untuk mensyukurinya, justru ketika musibah datang seakan-akan hilanglah nikmat yang telah diterima selama bertahun-tahun, keluh kesah dan hujatan selalu mewarnai kehidupan, betapa hati ini ingin selalu melihat kedamain sebagaimana teduhnya lautan pada pagi ini.


Pasir pantai yang putih terasa lembut ketika tersentuh telapak kaki, berjalan dengan telanjang kaki (tanpa alas) diatas pantai benar2 terasa nyaman, namun kadang-kadang ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, membuang sampah seenaknya tanpa memperdulikan lingkungan, ini kadang2 membuat kenyamanan pantai jadi berkurang.

Dari pantai ini juga ternyata berapa ribu manusia yang hidupnya bergantung dari jasa pantai, didalamnya banyak tersimpan benda laut seperti berbagai jenis kerang dsb, yang banyak mengandung manfaat bagi tubuh manusia jika mengkonsumsi. Perpaduan antara lautan dan pantai ternyata mengandung barokah yang tidak ternilai.


Bagi orang-orang yang banyak bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhingga ini yakinlah Allah akan melipat gandakan nikmat itu yang datangnya tidak terduga, namun jika tidak bersyukur atas nikmat-Nya, maka tunggu adzab Allah yang sangat pedih.......

Yah.....teduhnya lautan biru sebening hati yang suci bagi insan yang bersyukur atas nikmat alam pemberian-Nya



 

 

Sabtu, 27 November 2010

Lambaian daun ilalang

Kurang lebih satu kilo meter dari rumah ada sebuah bukit gundul ( karena tidak ada sebatang pohonpun yang tumbuh ) yang dipenuhi dengan tumbuhan rumput ilalang yang luasnya mencapai ratusan hektar, kalau melihat kesebelah timur dari bukit itu maka akan terlihat teluk Balikpapan dengan segala kesibukannya dari orang-orang yang memanfaatkan keberadaan teluk itu, diantaranya para nelayan yang mencari ikan untuk keperluan nafkah keluarganya, ada pula para pengguna transportasi air untuk menyebarang ke Balikpapan, demikian pula banyak sekali kapal-kapal perusahaan yang hilir mudik melalui teluk tersebut mulai dari kapal yang berukuran kecil yang hanya dapat memuat empat orang sampai dengan kapal tengker yang berukuran raksasa.

Ketika disuatu senja aku duduk diatas bukit itu sambil beristirahat karena kelelahan menggarap kebun yang berada disekitar bukit itu, pandangan sekali-kali kuarahkan keteluk Balikapapan, dan kadang-kadang kupandang pula kota Balikapapan dari kejauhan namun yang terlihat hanya bukit-bukit dan tangki-tangki minyak Pertamina, walaupun tidak nampak jelas bisa kubayangkan bagaimana hiruk pikuk hilir mudiknya  orang-orang yang memiliki keperluan yang berbeda-beda di kota itu.  Namun itu semua hanya menyita sebagian kecil perhatianku, justru yang menyita sebagian besar perhatianku saat itu adalah tumbuhan rumput ilalang yang tumbuh disekitar tempat duduk saat itu.

Angin yang berhembus cukup kencang sehingga membuat daun ilalang serentak bergoyang dengan teratur, bagaikan gelombang laut yang saling berkejar-kejaran, lalu kembang ilalang yang berwarna putih seperti kapas terbang berhamburan, melihat indahnya pemandangan seperti itu membuat hati benar-benar terasa damai, duduk dialam terbuka dengan lingkungan yang alami mampu melahirkan bermacam-macam inspirasi yang ada dalam hati dan pikiran. Kemudian dari kejauhan di bawah bukit sana terdengar suara.."krak, ternyata sepotong dahan pohon kering yang patah akibat terpaan angin, yah pohon yang ukurannya cukup besar ternyata tidak mampu menahan terpaan angin, namun daun ilalang yang bentuknya kurus, tipis, dan tingginya kurang lebih setengah meter justru dengan segala kelenturannya ia mampu menahan terpaan angin yang datang. Daun ilalangpun mampu mengimbanginya bahkan    karena kemampuannya untuk menyesuaikan dengan keadaan alam lingkungannya terlihat bagaikan sebuah orkestra yang indah bila terdengar gesekan daun itu pada saat diterpa angin, suara yang indah dan lambaiannya yang seirama, bagaikan sebuah tarian masal benar-benar memukau mata yang memadangnya, berapa banyak sudah puisi yang tertulis, berapa banyak sudah lagu yang tercipta dan berapa banyak sudah lukisan yang terpampang didinding rumah tentang keindahan rumput ilalang, walaupun sebagian orang ada yang tidak menyukai tumbuhan ini, karena dianggap tidak berguna.

Kalu ditinjau dari sisi manfaat secara langsung kehadiran rumput ilalang ini sebenarnya cukup banyak sekali manfaatnya, namun pada tulisan ini saya tidak mengupas manfaat langsung dari tumbuhan ini, justru yang menarik dari tumbuhan tersebut adalah pelajaran yang dapat diambil dari sebuah lambaian daun ilalang. Kemampuannya dalam beradaptasi bisa kita jadikan sebuah pelajaran dalam kehidupan dilingkungan masyarakat banyak, orang yang mampu menyesuaikan diri tentu ia akan diterima dimanapun ia berada. Menyesuaikan diri bukan berarti tidak punya pendirian, rumput ilalang bagaimanapun kencangnya angin topan menerpanya tidak akan mampu menggoyahkan tempat dimana ia berada, angin itu hanya mampu menggoyangnya namun tidak mampu memindahkannya dari tempatnya walaupun hanya satu milipun. Orang yang seprti filosufis daun ilalang ini memiliki pendirian yang kuat tetapi ia mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya, bahkan mampu membawa kesejukan, ketenangan dan kedamaian bagi orang-orang yang ada disekitarnya.  

Berada disekitar ilalang terkadang mampu membuat suasana romantis asalkan pada saat yang tepat, bahkan mampu mebangkitkan semangat hidup untuk tidak tenggelam dalam keputus asaan, dan tidak sedikit sebuah cita-cita terinpirasi pada saat itu, yah....dengan lambaian daun ilalang seakan ia memanggil untuk segera datang  menggapai harapan dalam kebersamaan untuk sebuah mahligai yang membuat hati menjadi bahagia, merasa aman dan damai, hati menjadi sejuk karena didalamnya ada rasa cinta dan kasih sayang dibawah lindungan dan ridho dari Yang Maha Kuasa...ALLAH SWT...., sungguh tidak ada di alam semesta ini yang telah di ciptakan Allah Swt dengan sia-sia, semua memiliki manfaat masing-masing, hanya terkadang kita yang belum mampu untuk memikirkannya,......... alam semesta firman Tuhan yang tidak tertulis.....

Kamis, 25 November 2010

YANG DIAMBIL DARI SEBUAH PERJALANAN ( Bagian - 2 )

Acara panel penyampaian laporan satker

 Di saat pagi hari tanggal 13 November 2010 setelah sholat Subuh kubuka pintu kamar hotel ditretes, kebetulan kamar yang kutempati berada dilantai 6 yang mana teras luarnya menghadap ke arah timur, persis berhadapan dengan gunung yg cukup tinggi, namun saya lupa apa nama gunung tersebut, terasa sejuk udara yang kurasakan membuat tubuh terasa segar setelah tidur semalam, dari kejauhan terlihat gunung yang diselimuti embun sementara puncaknya terlihat awan putih mengelilingi diseputar puncak gunung tersebut, subhanallah betapa indahnya pemandangan itu, tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan-Nya, sungguh Maha Besar Allah Swt pencipta alam semesta dengan segala keindahan dan kesempurnaannya. 
Indahnya alam dgn latar belakang gunung yg diselkimuti awan

Setelah sekian lama  kuterpaku memandang pemandangan alam disekeliling sejauh mata memandang sambil berdiri diteras hotel, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 07.00 pagai waktu setempat, maka sayapun bergegas pergi untuk mandi karena hari ini akan melakukan kunjungan dan rekreasi ke daerah Jatim Park di Batu Malang membawa seluruh peserta Rakor KIS yg jumlahnya kurang lebih 230 orang.

Setelah sarapan pagi di restaurant hotel seluruh peserta dipersilakan untuk memasuki bus yang sudah disediakan oleh rekanan dari Biro perjalanan kami, sementara saya dan tiga orang teman yang lainnya menggunakan Kijang Inova mengiringi dari belakang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam akhirnya kami sampai di lokasi Jatim Park, disini kami menikmati keindahan suasana lingkungan yang asri, penempatan pedagang kaki lima yang tertata dengan apik menambah suasana menjadi hidup dan membuat hati menjadi tenteram, udara yang sejuk diantara tanaman yang ditanam disekelilingnya menambah keasrian lingkungan. Sayang sekali disaat rekreasi ketempat yang indah seperti ini saya tidak dapat  ditemani isteri*, karena pada saat yang bersamaan dia sedang berhalangan karena kesibukannya serta tugas sebagai PNS yang tidak bisa ditinggalkannya, semoga dilain waktu dan kesempatan kami bisa rekreasi bersama.
Hasil kreasi

Keindahan alam ciptaan Allah Swt yang dipadukan dengan kreasi manusia sebagai mahluk yang berakal untuk membentuk lingkungan menjadi sangat nyaman untuk dinikmati dan dihuni oleh kita semua, kenikmatan dan keindahan yang kita dapati tidak terhitung nilainya, namun disaat kita mendapat musibah seakan-akan telah lupa dengan semua kenikmatan yang telah didapat selama ini, seperti terjadinya musibah Tsunami di Mentawai serta terjadinya erupsi gunung Merapi yang mana kesemuanya itu membuat dunia menjadi prihatin, berapa banyak korban nyawa manusia serta binatang ternak bahkan harta benda penduduk yang terkena musibah, namun mengingat itu semua sudah terjadi dan kita sebagai mahluk ciptaan dari Yang Maha Kuasa  kiranya dapat mengambil pelajaran dari kedua peristiwa itu yang datangnya hampir bersamaan.
Yah setiap peristiwa pasti ada hikmah dibaliknya, ketika Allah menurunkan musibah, bisa jadi itu adalah ujian sebelum Ia memberikan suatu kenikmatan lain yang kita sendiri terkadang tidak menyadarinya.
Suasana dalam Bus

Sebagai contoh suatu ketika saya mendapat tugas dari pimpinan untuk melakukan survei rencana lokasi pembanguan MAN di Melak Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur, mengingat waktu yang sangat terbatas pada hari itu saya harus dapat menyelesaikan tugas itu tepat waktu, namun apa hendak dikata ternyata sejak subuh hingga lepas tengah hari hujan turun dengan lebatnya, sehingga rencana ke lokasi pada jam 08.30 jadi berantakan, rasa kuatir tugas tidak dapat terselesaikan tepat waktu, sehingga kuatir pulang samapai waktu malam masih berada di tengah hutan, mengingat perjalanan menuju Melak tersebut harus melewati hutan yang sangat sunyi sekali. Nah baru sekitar pukul 14.00 baru bisa menuju lokasi yang tempatnya sangat licin dan melalui jalan yang berlumpur, hati ini ada sedikit menggerutu mengapa saya harus menerima cobaan seperti ini, namun setelah tugas selesai pada pukul 17.00 sore sayapun bersama dua orang kawan pulang menuju Samarinda, selama dalam perjalanan rasa kesal masih terasa di hati karena pakaian bersih menjadio kotor akibat lumpur, ya....Allah...sambil menyandarkan diri di mobil dalam perjalanan kuarahkan pandangan kelangit......subhanallah.....betapa indahnya pelangi  terlukis dilangit biru yang bersih tanpa awan sedikitpun, sehingga keindahannya dengan warna warni yang sangat menakjubkan  benar2 membuat hati menjadi sejuk, lupa sudah dengan kejadian tadi pagi. 
Kemudian keindahan penglihatan mata tidak terhenti sampai disitu, pada malam harinya kembali bulan purnama muncul dengan anggunnya, bagaikan manisnya senyuman sang bidadari dari kayangan, langit yang bersih membuat penampakan bulan menjadi sempurna untuk dipandang, hutan yang sebelumnya dikira gelap gulita menjadi terang benderang yang diterangi cahaya rembulan.
Nah dari peristiwa penomena alam itu ternyata Allah telah memberikan cobaan berupa hujan pada pagi harinya, ternyata Dia akan memberikan pelangi di sore hari dan rembulan dimalam hari, barulah saya menyadari kekeliruan ini, saya telah berdosa karena sempat menggerutu didalam hati disaat cobaan berupa hujan datang, saya merenung sejenak seandainya tidak terjadi hujan pada pagi hari pastilah pelangi yang sangat indah itu tidak akan muncul, demikian pula sang rembulan pun tidak akan nampak keindahannya dengan sempurna karena akan diselimuti awan hitam yang menutupinya....disinilah  kelemahan sebagai manusia terkadang hanya mampu menilai apa yang dilihat dan dirasakan pada saat itu, namun terkadang tidak sampai terfikirkan ada apa dibalik peristiwa itu semua.
Memberi araha sekaligus menutup kregiatan Rakor